Kesehatan Reproduksi Remaja

  1. Pengertian

a.     Kesehatan Reproduksi

         Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Fauzi., 2008).

b.     Remaja

         Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-19 tahun. Sementara dalam terminologi lain PBB menyebutkan anak muda (youth) untuk mereka yang berusia 15-24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam sebuah terminologi kaum muda (young people) yang mencakup 10-24 tahun. Dalam program BKKBN disebutkan bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 10-24 tahun. Menurut Hurlock (1993), masa remaja adalah masa yang penuh dengan kegoncangan, taraf mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat. Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosidan psikis. Masa remaja adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa peralihan. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa.

Imagec. Gender

Gender adalah istilah yang merujuk pada seperangkat karakteristik yang di pandang manusia sebagai hal-hal yang membedakan antara laki-laki dan wanita, dari hal-hal biologis seperti jenis kelamin, sampai peran sosial dan identitas gender. Gender role/peran gender didefinisikan sebagai persepsi norma perilaku yang berhubungan dengan laki-laki dan wanita di suatu kelompok masyarakat atau sistem. Gender adalah suatu komponen dari sistem gender/jenis kelamin yang merujuk pada seperangkat aturan dimana masyarakat mentransformasikan seksualitas biologis ke dalam produk aktivitas manusia, dan dimana transformasi kebutuhan (akan produk aktivitas manusia) ini dapat dipuaskan

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja

  Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

  1. Kebersihan organ-organ genital
  2. Akses terhadap pendidikan kesehatan
  3. Hubungan seksual pranikah
  4. Penyalahgunaan NAPZA
  5. Pengaruh media massa
  6. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi
  7. Hubungan harmonis dengan keluarga

3. Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja

        Kuatnya norma  sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakan oleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan juga pemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkan seksualitas dalam mata pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’, namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja. Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain :

  • Perkosaan
    Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta.
  • Free sex

Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini.

  • Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).

Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur.

  • Aborsi
    Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk melangsungkan kehamilan.
  • Perkawinan Dan Kehamilan Dini

Nikah dini ini, khususnya terjadi di pedesaan. Di beberapa daerah, dominasi orang tua biasanya masih kuat dalam menentukan perkawinan anak dalam hal ini remaja perempuan. Alasan terjadinya pernikahan dini adalah pergaulan bebas seperti hamil di luar pernikahan dan alasan ekonomi. Remajayang menikah dini, baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untukmemiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian anak dan ibu pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun yang menjalani kehamilansering mengalami kekurangan gizi dan anemia. Gejala ini berkaitan dengan distribusimakanan yang tidak merata, antara janin dan ibu yang masih dalam tahap proses pertumbuhan.

  • IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), dan HIV/AIDS. IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan HIV sebagian besar menular melalui hubungan seksual baik melalui vagina, mulut, maupun dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan transfusi darah dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak yang ditimbulkannya juga sangat besar sekali, mulai dari gangguan organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, hingga cacat pada bayi dan kematian.

4. Penanganan Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja

Ruang lingkup masalah kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi pada setiap fase kehidupan, maka upaya- upaya penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja sebagai berikut :

  • Gizi seimbang.
  • Informasi tentang kesehatan reproduksi.
  • Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
  • Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
  • Pernikahan pada usia wajar.
  • Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
  • Peningkatan penghargaan diri.
  • Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman

5. Issu gender dan penyebabnya

a. Adanya Pernikahan Usia Dini

Remaja saat ini masih ada yang menikah dibawah umur 20 tahun, walaupun UndangUndang Perkawinan No.1 Tahun 1974 yang menyebutkan usia minimal menikah bagiperempuan adalah 16 tahun dan untuk laki-laki umur 19 tahun. Pernikahan muda biasanya terjadi pada remaja putri, oleh orang tua dipaksa untuk menikah, hal ini terjadi karena orang tua ingin segera terbebas dari beban ekonomi,kawatir anak tidak mendapatkan jodoh (menjadi perawan tua), atau orang tua inginsegera mendapatkan cucu dan seterusnya, dilain pihak orang tua tidak pernah melaksanakan pada anak laki-laki. Persepsi sosial budaya yang membedakan laki-laki dan perempuan menyebabkan remaja putri hampir tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan pendidikan dan peran dalam sektor publik. Contoh yang paling ekstrim adalah anggapan bahwa sepintar apapun perempuan akhirnya kembali ke dapur, sumur dan kasur (Jawa: koncowingking, neroko katut swargo nunut), (Sumsel: wong rumah), (Minangkabau: indukbareh, urang rumah, ibunya anak-anak), (Aceh: mak sinyak). Remaja memang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, tentunya. Secara psikologis masih memerlukan perhatian terhadap kebutuhan mereka seperti bermain dengan teman sebaya, ingin diperhatikan, penasaran pada hal baru, ingin tahu dan mencoba, kurang hati-hati (Jawa: Grusah-grusuh, Keladuk kurang dugo,serampangan), mudah emosi, mudah tersinggung dan sebagainya.

b. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD/Married By Accident)

Merupakan suatu kehamilan yang oleh karena suatu sebab yang keberadaannya tidak diharapkan. Hal yang menyebabkan terjadinya KTD :

  1. Kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai proses terjadinya kehamilan serta cara/metode pencegahan kehamilan.
  2. Kurangnya pengetahuan dan pengamalan agama yang konsisten untuk upaya peningkatan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini bisa terjadi pada remaja yang sudah maupun belum menikah, KTD akan semakin memberatkan perempuan jika pasangannya tidak bertanggungjawab atas kehamilan yang terjadi.
  3. Terjadinya akibat tindak perkosaan, ini terjadi karena adanya pemaksaan fisik dan seksual. Walaupun remaja putri mempunyai pengetahuan yang cukup tetapi tidak bisa menghindar dari tindakan perkosaan seksual, mereka kehilangan harga diri dan masa depan. Perempuan biasanya yang menjadi korban akibat pemerkosaan, pencabulan, pelecehan seksual, yang dilakukan pria yang sudah dikenal maupun yang belum kenal.
  4. Perempuan dianggap sebagai obyek seksual, karena perempuan menjadi sasaran empuk untuk pemuasan nafsu biologis.
  5. Pornografi yang menampilkan gambar yang tidak senonoh, melalui media elektronik maupun cetak banyak disorot sebagai biang keladi penyebab utama tindak kejahatan seksual karena mempengaruhi dekadensi moral manusia termasuk remaja.

Berkembangnya teknologi komunikasi saat ini hampir tidak ada satupun kekuatan yang mampu mengendalikan atau menghentikan secara permanen untuk berita atau pun hiburan yang terindikasi pornografi. Tentunya ini merupakan tantangan kedepan yang harus segera mendapatkan perhatian, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga swasta, masyarakat seluruhnya yang selalu mengikuti perkembangan perilaku kehidupan remaja secara global

6. Kesetaraan dan keadilan gender

Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Kesehatan Reproduksi Remaja tidak hanya sebatas diketahui atau dimengerti oleh remaja putri saja, tetapi juga remaja putra, hal ini karena proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan dan merupakan tanggung jawabbersama laki-laki dan perempuan. Remaja diharapkan dapat mempunyai persepsi yang sama terhadap aspek kespronya agardiperoleh pengetahuan, sikap dan perilaku yang serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungan dimana mereka tinggal.Kesalahan yang sering terjadi dengan adanya bias gender, dimana permasalahan reproduksilebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan. Keadilan Gender memberikan peluang yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai peran di sektor publik, seperti pendidikan yang lebih tinggi, pekerjaan yang layaknya di dominasi laki-laki dan sebagainya, asalkan tidak menyalahi kodrat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, seperti perempuan harus hamil dan melahirkan yang tidak mungkindigantikan perannya kepada laki-laki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s